Langsung ke konten utama

Macam-Macam Motif Hias


Jenis-jenis Ragam Hias Suku Dayak 

a. Ragam hias geometris 
    Merupakan pola ragam hias yang saling terukur, memiliki keteraturan dan keseimbangan. Ragam hias berpola geometris sering ditemukan dalam bentuk spiral, zigzag, garis silang, persegi empat, dan lain-lain. Ragam hias ini dipercaya telah ada sejak zaman dahulu, hal ini diperkuat dengan bukti-bukti yang telah ditemukan. Motif geometris sering seringkali siaplikasikan dalam seni ukir atau pahatan. Namun, tidak jarang juga ditemukan pada motif-motif geometris diterapkan ke dalam bentuk dua dimensi. 

Bentuk-bentuk bidang geometris antara lain terbagi dalam 2 (dua) bagian: 
-  Bentuk bidang beraturan, berupa segitiga, lingkaran, persegi empat atau segi enam. 
- Bentuk bidang tidak beraturan, berupa gumpalan dengan bentuk mengarah pada bulatan atau lengkungan, bentuk tajam seperti bintang dan sejenisnya. 

    Pada ragam hias suku dayak, motif geometris sering dipakai untuk menghias bagian tepi atau pinggir suatu benda, tetapi juga sering dijadikan sebagai inti hiasan untuk memenuhi suatu benda. 
                                                            
     Contoh ragam hias geometris :
    
     Les 
     Merupakan salah satu jenis ragam hias geometris yang biasa digunakan di bangunan adat suku  Dayak. Ragam hias Les ini ditempatkan di dinding bagian bawah atau pinggiran bawah atap. Makna dari ragam hias ini adalah sebagai simbol identitas diri, menambah keindahan, serta lambang kesuburan. 

Les 


b. Ragam hias fauna dan manusia 
    Merupakan suatu bentuk ungkapan rasa yang dituangkan melalui bentuk-bentuk berupa gambar  yang menceritakan sejarah kehidupan. Misalnya lukisan-lukisan dinding gua yang menceritakan tentang kisah perburuan, perekonomian, ritual, dan sebagainya. 

    Suku dayak, seringkali memakai motif-motif kehidupan seperti hewan dan binatang hamper disetiap benda dan barang-barang yang digunakan. Hal ini membuktikan bahwa masyarakat suku dayak sangat erat dengan ajaran nenek moyang dan kepercayaan-kepercayaan orang terdahulu. Binatang seringkali dijadikan media dalam menjalankan ritual dan sesembahan, bahkan acapkali dianggap sebagai dewa pada beberapa kepercayaan. 

    Contoh ragam hias fauna dan manusia :
    Motif pada pakaian adat suku dayak (Bulang) 
     Pakaian dayak memang beragam, dari mulai motif, model pakaian, hingga penggunaan warna.  Namun, pakaian dayak umumnya adalah pakaian yang dibuat dengan cara ditenun. Jenis tenunnya yaitu tenun ikat. Di pahami bahwa seni budaya menenun merupakan kebudayaan yang diwariskan oleh generasi terdahulu yang mempunyai keunikan, nilai seni dan sejarah yang tinggi. Tahapan untuk menghasilkan sebuah karya kain tenun ikat dimulai dari penanaman kapas, pembuatan benang/memintal, ngaos (peminyakan benang), mewarna/mencelup, mengikat motif, menenun dan menjadikan pakaian adat merupakan rangkaian proses panjang. Dari beberapa tahapan tersebut dilakukan ritual-ritual tertentu yang dipercaya sebagai roh untuk membangkitkan semangat dalam bekerja maupun untuk memperoleh hasil yang memuaskan. Ini merupakan tradisi dan kebudayaan dari leluhur masyarakat suku Dayak Desa yang dilakuakan puluhan tahun silam.


     Puluhan bahkan ratusan motif pada kain tenun ikat Dayak berasal dari inspirasi, mimpi dan pengetahuan para leluhur yang mengandung makna begitu mendalam sebagai nasehat, petuah, pantangan, dan semangat dalam kehidupan keseharian. Motif pada pakaian suku dayak kebanyakan adalah motif binatang. Namun ada juga diantaranya yang mengambil tema alam. 

Bulang

    Motif pada daun pintu lamin 
     Bentuk tunggal ragam hias Naga Asoq, yaitu suatu perpaduan dari bentuk naga dan anjing, pada bagian kepala berupa gambaran bentuk naga, sementara di bagian badannya berupa bentuk badan anjing, suku Dayak Bahau lazimnya menyebut anjing dengan sebutan Asoq. Kenapa suku ini lebih menonjolkan bentuk Naga dan Asoq, hal tersebut lebih dikarenakan oleh suatau kepercayaan yang mereka anut. Pada ragam hias Naga Asoq ini, bila kita mengkajinya lebih jauh akan terlihat suatu bentuk Naga dan Asoq yang seolah-olah sedang berenang,. Perpaduan dalam bentuk tersebut adalah simbol atau suatu lambang yang dipercaya memiliki kekuatan untuk menolak kejahatan. Sedangkan arti dari ragam hias tersebut konon dipercaya bahwa Naga Asoq ini merupakan juru penyelamat dan petunjuk jalan menuju alam setelah kematian. Dan mengapa aplikasi dari bentuk Naga dan Asoq ini seolah-olah berenang, hal tersebut juga terjadi karena lebih kepada penghormatan mereka pada sungai, yang mereka anggap telah memberikan jalan kehidupan bagi suku Dayak Bahau. Naga Asoq sering terlihat pada hiasan-hiasan di daun pintu Lamin. Berikut gambar naga Asoq yang diaplikasikan dan dikomposisikan dengan motif-motif lainnya. 


Naga Asoq pada pintu Lamin 



    Ragam hias pada suku dayak di Kalimantan Barat merupakan ide-ide dan pemikiran yang dituangkan dalam bentuk gambar dan hiasan yang berfungsi sebagai sarana ritual keagamaan. 
    Ragam hias suku dayak seringkali terlihat oleh dominasi warna hitam dan merah. Inilah salah satu  cirri khas dari kebudayaan masyarakat dayak. Selain itu, warna-warna tersebut juga mengandung makna-makna yang semuanya sangat terkait dengan aspek kehidupan dan keagamaan suku dayak.


Motif-motif hias pada zaman kerajaan-kerajaan besar di Jawa dan sekitarnya.
1. Motif Ragam Hias Padjajaran
     Motif Ragam Hias Padjajaran berbentuk ukel dari daun pakis dan bentuknya serba bulat. Bentuk  ukel seperti tanda koma, Angkupnya berbentuk bulat juga. Ujung ukel berbentuk patran miring. Motif Ragam Hias Padjajaran ini dapat kita lihat di Makam Sunan Gunung Jati, pada suatu bangsal dari kayu berukir. Menurut sejarah, semula adalah bangsal Taruma Negara dari Kerajaan Prabu Siliwangi. Makam tersebut terletak di dekat sungai Citarum di daerah Cirebon. Motif Ragam Hias Padjajaran diketemukan oleh Dinas Purbakala.

       Pokok dan Dasar Motif Padjajaran:
       Bagian Pokok: Cembung,semua daun atau bunga besar maupun kecil, dibuat cembung (bulat). 
       Angkup: Mempunyai beberapa angkup antara lain angkup besar, angkup tanggung, angkup kecil.
       Culo: Ialah unsure yang penting untuk mengetahui bahwa itulah motif Padjajaran. Lain dari pada itu tanda culo, berbentuk cembung. Motif Padjajaran besar maupun tanggung dan kecil ada culonya.
       Endong: Ialah sehelai daun yang selalu digendong oleh daundaun pokok (daun yang besar) atau suatu trubusan yang selalu tumbuh di belakang daun pokok.
       Simbar: Ialah sehelai daun tambahan yang tumbuhnya pada daun besar atau daun pokok yang berdampingan dengan tangkai angkup.
       Benangan: Yaitu gagang yang terletak di bagian muka ulir atau daun melingkar menuju ulir atau hiasan yang berwujud seperti benang di bagian sehelai daun. Bentuk ini menambah manis dan cantiknya motif tersebut.
       Pecahan: Ialah garis penghias daun; bentuk pecahan ini diselaraskan dengan motif tersebut. 

2.   Motif Ragam Hias Majapahit
     Ragam Hias Majapahit berbentuk bulatan dan krawingan (cekung) dan terdiri dari ujung ukel dan daun-daun waru maupun pakis. Dalam raga mini patran (daun) diwujudkan krawing (cekung). Bentuk Ragam Hias Majapahit untuk ragam pokok berbentuk seperti tanda Tanya.
Ragam-ragam ini terdapat pada bekas-bekas potongan batu yang hanya sedikit, dan pada potongan kayu yang sudah rusak. Ragam Majapahit diketemukan oleh Ir. H. Maclaine Pont, seorang pejabat pada Museum Trowulan dan juga dapat dilihat pada tiang Pendopo Masjid Demak. Menurut sejarah tiang tersebut merupakan benda peninggalan kerajaan Majapahit yang dibawa oleh R. patah.

Pokok dan dasar Motif Hias Majapahit
      Bagian Pokok: Campuran cekung dan cembung, memang daun ini merupakan campuran yang  sesuai untuk menambah baiknya motif tersebut.
     Angkup: Ragam ini mempunyai dua angkup, yang berbentuk cembung dan cekung memakai ulir menelungkup pada sehelai daun pokok.
     Jambul: Ragam ini mempunyai jambul susun dan jambul satu. Ini suatu tanda untuk daun-daun pokok atau daun lainnya. Jambul yang satu untuk daun yang tanggung. Adapun daun kecil tidak memerlukan jambul. Jambul ini diletakkan di muka bagian atas ulir pada penghabisan ulir angkup.
    Trubusan: (daun semi) ialah sehelai daun yang terletak di atas angkup atau daun besar berebentuk bulat atau cekung (krawing), baik daun tanggung maupun daun kecil.
     Benangan: Sama dengan motif Padjajaran, hanya bedanya jika motif Majapahit mempunyai benangan rangkap. Benangan rangkap ini dipakai pada daun yang besar dan benangan satu pada daun yang tanggung.
     Simbar: Ialah sehelai daun tambahan yang tumbuh pada daun besar atau pokok daun pada bagian bawah, berdampingan dengan tangkai angkup.
     Pecahan: Ialah garis penghias daun; bentuk pecahan ini diselaraskan dengan motif tersebut. 

3.   Motif Ragam Hias Bali
      Motif Ragam Hias Bali hampir sama dengan Ragam Hias Padjajaran. Bedanya terletak pada ujung ukel dihiasi dengan sehelai patran. Jadi ukel besar kecil, bulat cekung, pecahan, ada pula daun yang runcing. Ragam Hias bali oleh orang Bali dinamakan Patre Punggel. Ragam ini dapat dilihat di pura sebagai hiasan pintu masuk. Juga di kota-kota besar yang sudah banyak didapatkan patung-patung Bali Klasik.

     Pokok dan Dasar Motif Hias Bali
     Bagian Pokok: Campuran cekung dan cembung serta campuran daun ini. Daun yang besar atau tanggung, sehingga bentuk daun dapat dimengerti jika daun inilah motif Bali.
     Pokok Daun: Sehelai daun yang tumbuh di tengah-tengah daun yang lain dan tertutup oleh angkup. Batas dan garis pokok berimpitan dengan ulir muka (benangan) dan masuk pada angkupnya.
     Angkup: Sehelai daun yang menutup daun pokok dari pangkal hingga sampai pada ujungnya dan pada ujung daun berulir.
     Benangan: Berbentuk cekung melingkar di bagian muka ulir dan tidak berimpitan dengan garis-garis yang lain dan ujungnya berulir.
     Sunggar: Sehelai daun yang tumbuh membalik di muka berbentuk krawingan, yang pokoknya tumbuh dari ulir bagian benang.
     Endong: Sehelai daun yang selalu tumbuh di belakang (punggung) daun pokok, yang berbentuk cempalukan berulir atau daun punggel.
     Trubusan: (daun semi) sehelai daun tambahan yang tumbuh di bagian ujung atau atas daun pokok, menambah indahnya daun itu.
     Simbar: Ialah sehelai daun tambahan yang tumbuh pada daun besar atau daun pokok di bagian bawah berdampingan tangkai angkup.
     Pecahan: Suatu cawenan yang memisahkan daun pokok, terletk ditengah-tengah daun itu, menambah baiknya dari suatu motif Bali.

4.  Motif Ragam Hias Mataram
     Motif Ragam Hias Mataram ini jika ditinjau dari gambar ukir, berasal dari pakaian wayang purwa.  Bentuknya mirip bentuk cawenan-cawenan pakaian wayang. Dapat disimpulkan, ukiran motif Mataram mengambil motif ukiran wayang purwa Kerajaan Demak. Sebab, menurut sejarah, pada waktu kerajaan Demak mengalami masa surut, wayang dibawa pula ke Kerajaan Mataram.
Dalam pelaksanaannya, motif Mataram berbentuk krawingan.

       Pokok dan Dasar Motif Hias Mataram:
       Pokok: Berbentuk krawingan atau cekung, bagian muka dan atas memakai ulir atau polos dan ada pula daun yang menelungkup. Daun-daun motif Mataram ini sifatnya menyerupai daun alam (bentuk digubah) dan cara hidupnya bergerombolan, sehingga menggambarkan kesatuan atau menuju kesatu titik (memusat).
       Benangan: Yang mempunyai bentuk benangan timbul dan cawen melingkar menuju ulir muka.
       Trubusan: Yang mempunyai bentuk sehelai daun kagok, bengkok tumbuh di bagian muka benangan dan berhenti di bawah ulir.
       Pecahan: Ialah suatu pecahan yang bentuknya menyobek sehelai daun memakai irama berbelok-belok, sehingga menambah baiknya masing-masing daun.

5.    Motif Ragam Hias Jepara
       Ragam Hias Jepara dikembangkan oleh penduduk Jepara, untuk perhiasan rumah tangga di daerah itu sendiri. Juga diperdagangkan ke Luar Negeri. Ragam Hias tersebut dari ukiran kayu; misalnya alat- alat rumah tangga, berupa: peti untuk penyimpan barangbarang perhiasan, kursi tamu, almari, buffet, toilet, dan lainlainnya. Untuk keperluan rumah tangga misalnya; gebyok yakni dinding antara serambi rumah dengan ruang peringgitan (ruang muka) yang sering terdapat di sekitar daerah Jepara dan kudus.
       Peninggalan pertama yang masih dapat kita lihat yaitu hiasan ornamen yang ada di Makam Mantingan Jepara.
       Pokok dan Dasar Motif Jepara
       Pokok: Dari motif ini garis besarnya berbentuk prisma segi tiga yang melingkar-lingkar dan dari penghabisan lingkaran berpecah- pecah menjadi beberapa helai daun, menuju kelingkaran gagang atau pokok dan bercawenan seirama dengan ragam tersebut.
Buah: Ialah di bagian sudut pertemuan lingkaran, berbentuk bulatan kecil- kecil bersusun seperti buah wuni.
Pecahan: Ialah cawenan yang berbentuk sinar dari sehelai daun
Lemahan: Ialah dasar, dalam prakteknya tidak begitu dalam ada juga yang di krawang atau tembus.

6.    Motif Ragam Hias Madura
       Motif Ragam Hias Madura mempunyai corak tersendiri, bentuk daunnya agak kaku, biasanya untuk perhiasan kamar. Ragam Hias ini diwujudkan berlapis (bersusun), daun yang ada di sebelah muka terpisah dengan daun di belakang, tetapi merupakan satu rangkaian.
Motif Madura diciptakan oleh para ahli seni di daerah itu sendiri tidak mencontoh motif dari daerah lain. Motif tersebut tidak diperdagangkan seperti ukiran dari daerah Jepara yang merupakan sumber penghidupan rakyat setempat. Akan tetapi juga kita dapat melihat motif ukiran Madura itu di gedung Museum Pusat (museum Gajah) Jakarta. Sebagai contoh diberikan perhiasan melengkung di atas sebuah pintu yang pada waktu itu dipersembahkan penduduk kepada Gubernur Jenderal De Greaff dan sesudah beliau kembali ke Negeri Belanda, barang tersebut dipasang pada salah sebuah pintu di museum.
        Pokok dan Dasar Ragam Motif Hias Madura
        Pokok: Raga mini mengubah patran yang diselingi dengan isian (isen-I seni) bunga, buah,  daunnya melengkung membentuk tanda Tanya dan bentuk daunnya cekung (krawing).
 Pecahan: Tiga baris panjang pendek dari benangan menuju ujung daun motif.
 Benangan: Timbul dari pangkal daun menuju ke ulir daun tersebut.

7.    Motif Ragam Hias Cirebon
       Di kota Cirebon dan sekitarnya terdapat seni ukir kayu yang mempunyai gaya tersendiri. Pada dasarnya motif ragam hias tersebut dapat dibedakan menjadi tiga bagian, yaitu ragam hias awan, bukit batu karang dan motif tumbuh- tumbuhan. Masing-masing mempunyai ciri khas yang menunjukkan perbedaan antara yang satu dengan lainnya.
Ragam Hias awan dapat diketahui, dengan adanya garis sudut-menyudut yang terpajang dari pilin berupa belah ketupat yang letaknya mendatar. Pada rangkaian belah ketupat tidak terdapat rangkaian tanaman, dan dapat juga diketahui dari cara meletakkannya.
Ragam Hias batu karang dapat diketahui dengan adanya batu karang yang menjalar pada pilin- pilin seperti belah ketupat yang berantai, bagian pinggir bergelombang dan sudutnya dibulatkan. Garis sudut menyudut yang terpajang dari belah ketupat berdiri tegak.
Adapun Ragam Hias Cirebon yang bentuknya merupakan gubahan bentuk tumbuh-tumbuhan mempunyai bentuk hampir sama dengan ragam hias Padjajaran. Begitu pula bentuk timbul cekungnya menunjukkan perbedaan yang jelas sekali. Gambar orang dan binatang menurut ragam hias Cirebon sering dilukiskan dalam bentuk ragam hias tanaman. Hal ini dilakukan berhubung dengan adanya larangan dalam agama Islam untuk melukiskan manusia dan binatang.
Selain ragam Cirebon yang diwujudkan dalam bentuk sulur-suluran kembang bakung, banyak juga ragam hias lain dalam bentuk Pohon Hayat yang mempunyai arti simbolik, bahwa: Pembagian dunia itu serba dua yang menyatakan dunia atas (burung enggang), dunia bawah (ulur), serta keesaan Tuhan digambarkan dengan pohon Hayat.
       Pokok dan Dasar Motif Cirebon
       Pokok: Raga mini mirip dengan ragam Pejajaran yang berbentuk cembung bercampur cekung(bulat dan krawing), merupakan komposisi besar kecil yang berbuah dan berbunga.
Angkup: Menelungkup pada bagian daun pokok melingkari ragam pokok.

8.    Motif Ragam Hias Pekalongan
       Motif Pekalongan termasuk seni ukir yang tidak kalah dengan motif yang lain dan mempunai corak tersendiri, juga mempunyai bunga dan buah seperti bakung. Ukiran ini kurang dikenal, sebab tidak dikembangkan atau tidak diperdagangkan penduduk setempat,hanya dipergunakan untuk perhiasan rumah tangga. Karena Pekalongan terkenal dengan batiknya, maka batik inilah yang dikembangkan oleh penduduk di kota tersebut.
         Pokok dan dasar Motif Hias Pekalongan
         Pokok : Dasar motif pekalongan mirip PaDjajaran yang berbentuk cembung dan dan cekung.
         Angkup : tumbuh melingkari ragam pokok dengan angkup yang bersusun.  
         Benangan : berbentuk timbul menghubungkan ulir yang satu dengan yang lain, sama dengan ragam mataram. Pecahan, hanya terdapat pada lingkaran besar dan daun-daun.

9.    Motif Ragam Hias Surakarta
       Motif Ragam hias Surakarta mengambil gubahan patrari dan ukel pakis yang sedang menjalar dengan bebas, berbentuk cembung dan cekung, yang dilengkapi dengan buah dan bunga. Hasil seni merupakan gaya pembawaan dan watak penciptaan pengaruh alam sekitarnya.
Pada umumnya penduduk Surakarta gemar akan gerak irama yang bebas namun tetap memenuhi syarat komposisi Seolah-olah ada keseragaman hidup masyarakat Surakarta dengan aliran Bengawan Solo. Ragam hias ini masih banyak terdapat di sekitar keraton Solo, di Museum Radya Pustaka, dan di tebeng Langse Makam Pujangga Ronggo Warsito di desa Palar Klaten, diambil juga gubahan daun bakung dan kangkung.
         Pokok dan dasar motif Surakarta:
         Pokok : dasar motif Surakarta mirip motif campuran antara ragam hias Jepara dan Pekalongan yang berbentuk cembung dan cekung serta runcing dan bulat.
Angkup : digubah dari daun pakis yang berbentuk sesuai dengan angkup ragam hias Bali.
Benangan dan pecahan : membentuk garis yang pada ujung melingkar.

10.    Motif Ragam Hias Yogyakarta
         Motif Ragam hias Yogyakarta mengambil gubahan sulur-sulur yang berbentuk pilin tegar. Sulur bunga sebetulnya akar gantung, melilit menyerupai tali yang bergelombang. Pada jarak jarak yang tertentu ada buku- buku dari sinilah selalu tumbuh keluar tangkai daun, yang berbentuk seperti pilin.
Pilin-pilin ini mengikal ke kanan dan kekiri berganti-ganti. Pada ujung tiap-tiap tangkai daun, ada buah dan bunganya. Daundaun yang menempel pada tangkainya, mengikal berlawanan arah. Penjelasan ini diberikan oleh Dr. Brandes.
Ragam hias tersebut banyak digunakan pada hiasan-hiasan alumunium, perak, emas dari barang-barang kerajinan yang dihasilkan oleh penduduk Yogyakarta misalnya : alat-alat sendok, asbak, cerana, gong, bejana kerangka atau sarung keris dan lain-lain.
          Pokok dan Dasar Motif Yogyakarta
          Pokok : diambil dari gubahan sulur yang berbentuk pilin yang tegar, bertangkai bulat
 Daun : berbentuk mengikal berlawanan, krawing, bulat yang mempunyai tepi membalik ke atas sebagian sehingga tampak timbul.
Pecahan : terdapat pada tangkai dan daun
Angkup : seringkali terdapat pada tangkai sulur yang searah dengan tegarnya tangkai, yang merupakan daun pula


Seni ukir Batak (Ornamen Kepala Kuda)
Secara tradisional, rumah Batak kaya dengan dekorasi design geometris dan gambar-gambar natural dengan warna-warna merah, putih dan hitam. Dekorasi utama sebuah rumah umumnya berukuran besar dengan ukiran kepala binatang digabungkan dengan motif-motif yang kompleks dan indah.
Ornamen arsitektur bagian samping rumah biasanya didominasi oleh kepala kuda. Ukiran ini bukan hanya untuk hiasan tetapi juga berfungsi sebagai pengawal gaib untuk memberikan perlindungan bagi penghuni rumah. Di daerah Batak Toba, kuda sering disembelih untuk penghormatan leluhur dan dipercaya memiliki kemampuan untuk menghantarkan seseorang berjumpa dengan leluhurnya. Kuda juga merupakan simbol status karena hanya orang-orang terhormat yang mampu memilikinya.



BATIK MADURA
Seni batik Madura diperkirakan masuk ke wilayah madura sejak tahun 1293, dan kemudian terus berlanjut hingga abad ke-17. Saat itu kerajaan Sumenep dipimpin oleh Ario Prabuwinoko. Pada masa itu, kain batik madura mulai dikenal oleh masyarakat madura secara luas dan sejak saat itu juga, batik Madura mulai dikenalkan sebagai warisan leluhur yang berbeda dengan batik  milik suku Jawa yang sangat beragam.
Pada masa itu terjadi peperangan di Pamekasan Madura antara Raden Azhar (Kiai Penghulu Bagandan) melawan Ke’ Lesap. Raden Azhar adalah ulama penasihat spiritual Adipati Pamekasan yang bernama Raden Ismail. Sedangkan Ke’ Lesap merupakan putra asli Madura yang merupakan keturunan Cakraningrat I dengan istri selir. Pada peperangan itu, Raden Azhar memakai pakaian batik madura dengan motif leres, motif leres adalah yakni kain batik madura dengan motif garis melintang yang simetris. Ketika memakai kain batik madura motif leres tersebut, Raden Azhar memiliki kharisma, tampak gagah dan berwibawa. Sejak itulah, batik madura menjadi perbincangan di masyarakat Madura, terutama pembesar-pembesar di Pamekasan. Batik adalah kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia (khususnya Jawa) sejak lama. Perempuan-perempuan Jawa di masa lampau menjadikan keterampilan mereka dalam membatik sebagai mata pencaharian, sehingga di masa lalu pekerjaan membatik adalah pekerjaan eksklusif perempuan sampai ditemukannya “Batik Cap” yang memungkinkan masuknya laki-laki ke dalam bidang ini. Ada beberapa pengecualian bagi fenomena ini, yaitu batik pesisir yang memiliki garis maskulin seperti yang bisa dilihat pada corak “Mega Mendung”, dimana di beberapa daerah pesisir pekerjaan membatik adalah lazim bagi kaum lelaki.
BATIK PEKALONGAN
 Batik pekalongan ini sebenarnya telah dimulai sejak paska konflik dan peperangan yang ada dilingkungan kerajaan mataram. Saat itu, peperangan yang melawan kolonial Belanda dan perpecahan di lingkungan keraton memang sangat sering terjadi. Kondisi inilah yang akhirnya memaksa sebagian keluarga keraton untuk mengungsi ke daerah lain dan salah satunya adalah kota Pekalongan. Keluarga keraton yang sudah mempunyai ketrampkilan membatik inilah yang akhirnya mengembangkan ketrampilannya membatik di Pekalongan tempat mereka mengungsi tersebut. Di kota Pekalongan tersebutlah batik tersebut akhirnya tumbuh pesat dan akhirnya terus dikembangkan oleh masyarakat sekitar hingga akhrinya menjadi sumber mata pencaharian. Untuk motif batik pekalongan ini sangat dipengaruhi oleh keadaan daerah yang ada di sekitarnya. Hingga saat ini jenis batik pekalongan yang paling dikenal berdasarkan prosesnya adalah batik tulis dan juga batik cap. Meskipkun demikian motif batik pekalongan tetap memiliki ciri khas yang tentunya menjadi daya tarik tersendiri untuk penggemar batik khususnya batik dari Pekalongan ini.
Seni Ukir Kayu Suku Asmat
Bagi suku Asmat, seni ukir kayu adalah bagian dari kehidupan sehari-hari yang telah turun temurun menjadi suatu kebudayaan yang bukan saja dikenal di Papua dan Indonesia, melainkan sudah ke seluruh dunia. Bagi setiap turis asing yang berkunjung ke Papua, rasanya kurang lengkap apabila tidak mengenal atau membeli cenderamata karya ukir suku Asmat dalam berbagai ukuran. Ciri khas dari ukiran suku asmat adalah polanya yang unik dan bersifat naturalis, dimana dari pola-pola tersebut akan terlihat kerumitan cara membuatnya sehingga membuat karya ukir suku Asmat bernilai tinggi dan sangat banyak diminati para turis asing yang menggemari karya seni.
Dari segi model, ukiran suku Asmat memiliki pola dan ragam yang sangat banyak, mulai dari patung model manusia, binatang, perahu, panel, perisai, tifa, telur kaswari sampai ukiran tiang. Suku Asmat biasanya mengadopsi pengalaman dan lingkungan hidup sehari-hari sebagai pola ukiran mereka, seperti pohon, perahu, binatang dan orang berperahu, orang berburu dan lain-lain. Mengukir adalah sebuah tradisi kehidupan dan ritual yang terkait erat dengan spiritualitas hidup dan penghormatan terhadap nenek moyang. Ketika Suku Asmat mengukir, mereka tidak sekedar membuat pola dalam kayu tetapi mengalirkan sebuah spiritualitas hidup

 Motif atau ragam hias Mataram
Ragam hias Mataram ini banyak mengekspresikan bentuk daun yang menyerupai daun waru, atau kluweh (Jawa) atau  juga gubahan dari buah koro yang disebut korohisto. Susunan dari ragam hias ini biasanya bergerombol dari satu pusat tumbuh ke segala arah.  Ada juga yang disusun sambung menyambung antara daun yang satu dengan daun yang lain hingga mewujudkan untaian yang panjang. Unsur-unsur pada ragam hias ini terdiri dari :
1)      Daun pokok : dalam motif ini dilakasanakan dalam bentuk krawing  (cekung) baik dari pangkal sampai  ujung daun.
2)      Ulir : pada umumnya bentuk ulir pada motif ini banyak mempunyai proporsi yang besar bila dibandingkan dengan motif lain.
3)      Pecahan : pada motif ini banyak diterapkan pada tepi-tepi daun sampai pada angkupnya dan tiap satu daun paling banyak tiga pecahan dan pecahan tersebut biasanya lebar dan dalam.
4)      Benangan :pada motif ini dilaksanakan timbul berbentuk melilit melingkari ulir induk.
5)      Angkup : pada motif ini angkup dalam arti riel (nyata) tidak ada yang kelihatan seperti angkup pada daun pokok, hanya merupakan lipatan daun itu sendiri.
6)   Trubusan : pada ragam hias ini daun trubusan banyak menyerupai daun warudengan benangan timbul.

Seni Ukir Motif Pajajaran

Ragam hias ini banyak terdapat di Jawa Barat karena merupakan hasil dari budaya Kerajaan Pajajaran. Peninggalan yang masih sampai sekarang banyak terdapat di Makam Sunan Gunung Jati. Dalam ragam hias ini kelihatan bentuk-bentuk yang bulat karena semua bentuk ukiran di ekspresikan bulatan atau cembung. Ragam hias Pajajaran terdiri dari:
1)      Daun pokok : daun pokok atau relung besar dibuat cembung atau bulatan. Hal ini perkasanya sifat ragam hias.
2)      Angkup :  pada ragam hias ini dibuat cembung atau bulatan. Pada tangkai angkup biasanya tumbuh trubusan pada bagian atas.
3)      Cula : Pada ragam hias Pajajaran ini ada bentuk daun kecil yang tumbuh di muka daun pokok atau relung besar. Hal ini merupakan corak khusus bahwa di Jawa Barat dengan adanya binatang yang bercula yaitu binatang badak.
4)      Endhong : daun yang tumbuh dibelakang daun pokok, bentuknya bersusun-susun dari bawah sampai atas dau pokok. Juga bersifat pengisi bidang-bidang kosong.
5)      Simbar : pada daun pokok depan, tepatnya di belakang benangan tumbuhlah daun kecil-kecil yang berjajar ke atas yang lazimnya disebut simbar. Hal ini lebih menambah wibawa dari ragam hias Pajajaran.
6)      Benangan : berbentuk miring, dari bawah sampai ke atas berhenti pada ulir pokok.
7)      Pecahan : sebagaimana lazimnya motif ukir, pecahan merupakan pemanis atau menambah luwesnya bentuk daun yang sudah dipecahi.
8)   Trubusan : Dau-daun kecil yang tumbuh di sekitar daun pokok, juga bersifat pelengkap atau pengisi dari bidang-bidang yang kosong.

Motif  Majapahit

merupakan salah satu motif ukiran tradisional yang telah berkembang di Jawa khususnya atau Nusantara pada umumnya. Secara garis besar motif Majapahit mempunyai ciri-ciri yang dapat dibagi menjadi dua yaitu ciri-ciri umum dan ciri-ciri khusus.

Ciri-ciri umum:
Semua bentuk ukiran daun, bunga dan buah berbentuk melengkung cembung dan cekung. Dengan kata lain motif Majapahit mempunyai ciri-ciri secara umum mempunyai bentuk campuran antara yang cembung dan cekung.


Ciri-ciri khusus:
Angkup, motif Majapahit mempunyai bentuk yang disebut dengan angkup. Angkup pada motif ini berbentuk cekung dan berikal. Bentuk ini terdapat pada bagian atas sedangkan pada ujung angkup terdapat ikal sebagai akhir dari angkup tersebut.  Jambul Susun, merupakan salah satu ciri khas yang ada pada motif Majapahit. Jambul Susun terletak pada muka daun pokok dengan pengulangan bentuk yang berkali-kali. Sesuai dengan namanya Jambul Susun ini bentuknya tersusun secara berulang-ulang di depan agak ke atas pada daun pokoknya. Daun Trubus, pada motif Majapahit ini kebanyakan tumbuh di atas pada daun pokok. Trubus yang terdapat di atas ini jumlahnya juga mengalami pengulangan secara berkali-kali dengan jumlah yang tergolong banyak.
Simbar, berbentuk seperti Simbar yang terdapat pada motif ukiran lainnya. Simbar juga berfungsi sebagai penambah keindahan saja. Bentuk ini memang bukanlah bentuk inti pada motif Majapahit. Simbar hanyalah sebagai pelengkap atau untuk sarana penunjang estetika. Biasanya terletak pada bagian pangkal depan dari daun pokok.  Benangan, motif ini kadang-kadang mempunyai benangan rangkap di samping juga terdapat benangan garis. Benangan ini terdapat pada daun pokok bagian depan dimulai dari pangkal mengikuti alur lengkungan daun pokoknya menuju dan berakhir pada ulir/ukel. Pecahan, seperti halnya pada motif yang lain, pecahan pada motif Majapahit mempunyai dua jenis pecahan yaitu pecahan garis yang menjalar pada daun pokok dan pecahan cawen yang terdapat pada ukiran daun patran. Sehingga bentuk Pecahan ini dapat menambah keindahan dan kecantikan pada ukiran.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

20 Nama Bunga Dalam Bahasa Mandarin

Mawar -  玫瑰  ( Méiguī) Teratai -  莲 花 / Liánhuā  Tulip - 郁金香  ( Yùjīnxiāng) Angrek -  兰 花  ( Lánhuā) Dahlia -大 丽 花  ( Dàlìhuā) Peony -  牡丹花  ( Mǔdān huā) Bakung -  百合花  ( Bǎihé huā) Phalaenopsis -  蝴蝶 兰  ( Húdié lán) Bunga Krisan -  野菊花  ( Yě júhuā) Daisy -   小 雏 菊 ( Xiǎo chújú) Anyelir - 康乃馨  ( Kāngnǎixīn) Poppy -  虞美人  ( Yú měirén) Bunga Kamelia -  茶花 ( Cháhuā) Azalea -  杜 鹃 花  ( Dùjuān huā) Narcissus - 水仙花  ( Shuǐxiān huā ) Bunga Violet -  紫 罗兰  ( Zǐluólán) Bunga Matahari - 向日葵 ( Xiàngrìkuí)     Bunga Plum -  梅花  ( Méihuā) Bird of Paradise - 天堂 鸟  ( Tiāntáng niǎo)  Dandelion - 蒲公英  ( Púgōngyīng)

Contoh Makalah Musik Tradisional Indonesia

MAKALAH SENI BUDAYA MUSIK TRADISIONAL NUSANTARA Disusun oleh : Gallen W T Kelas XB Tahun Ajaran 2018/2019   KATA PENGANTAR       Puji syukur saya panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan karunia-Nya saya dapat menyelesaikan makalah ini. Indonesia adalah sebuah negara dengan beragam adat dan budaya. Hal ini menyebabkan munculnya banyak musik daerah. sehingga Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memperdalam pengetahuan saya tentang musik tradisional. Makalah ini berisi informasi tentang pengertian, sejarah, fungsi, beberapa contoh musik tradisional di indonesia dan cara menghargainya.     Menurut Ki Hajar Dewantara : seni adalah indah, seni adalah segala perbuatan manusia yang timbul dan hidup perasaannya dan bersifat indah hingga dapat menggerakkan jiwa perasaan manusia lainnya. Dengan seni diharapkan kita sebagai makhluk sosial dapat menggerakkan perasaan kita untuk peka terhadap apa yang terjad...