Jenis-jenis Ragam Hias Suku
Dayak
a. Ragam hias geometris
Merupakan pola
ragam hias yang saling terukur, memiliki keteraturan dan keseimbangan. Ragam
hias berpola geometris sering ditemukan dalam bentuk spiral, zigzag, garis
silang, persegi empat, dan lain-lain. Ragam hias ini dipercaya telah ada sejak
zaman dahulu, hal ini diperkuat dengan bukti-bukti yang telah ditemukan. Motif
geometris sering seringkali siaplikasikan dalam seni ukir atau pahatan. Namun,
tidak jarang juga ditemukan pada motif-motif geometris diterapkan ke dalam
bentuk dua dimensi.
Bentuk-bentuk
bidang geometris antara lain terbagi dalam 2 (dua) bagian:
- Bentuk bidang beraturan, berupa segitiga, lingkaran, persegi empat atau segi
enam.
- Bentuk bidang tidak beraturan, berupa gumpalan dengan
bentuk mengarah pada bulatan atau lengkungan, bentuk tajam seperti bintang dan
sejenisnya.
Pada ragam hias
suku dayak, motif geometris sering dipakai untuk menghias bagian tepi atau
pinggir suatu benda, tetapi juga sering dijadikan sebagai inti hiasan untuk
memenuhi suatu benda.
Contoh ragam hias geometris :
Les
Merupakan salah
satu jenis ragam hias geometris yang biasa digunakan di bangunan adat suku Dayak. Ragam hias Les ini ditempatkan di
dinding bagian bawah atau pinggiran bawah atap. Makna dari ragam hias ini
adalah sebagai simbol identitas diri, menambah keindahan, serta lambang
kesuburan.
![]() |
| Les |
b. Ragam hias fauna dan
manusia
Merupakan suatu
bentuk ungkapan rasa yang dituangkan melalui bentuk-bentuk berupa gambar yang menceritakan sejarah kehidupan. Misalnya
lukisan-lukisan dinding gua yang menceritakan tentang kisah perburuan,
perekonomian, ritual, dan sebagainya.
Suku dayak,
seringkali memakai motif-motif kehidupan seperti hewan dan binatang hamper
disetiap benda dan barang-barang yang digunakan. Hal ini membuktikan bahwa
masyarakat suku dayak sangat erat dengan ajaran nenek moyang dan
kepercayaan-kepercayaan orang terdahulu. Binatang seringkali dijadikan media
dalam menjalankan ritual dan sesembahan, bahkan acapkali dianggap sebagai dewa
pada beberapa kepercayaan.
Contoh ragam hias fauna dan manusia :
Motif pada pakaian adat suku dayak (Bulang)
Pakaian dayak
memang beragam, dari mulai motif, model pakaian, hingga penggunaan warna. Namun, pakaian dayak umumnya adalah pakaian
yang dibuat dengan cara ditenun. Jenis tenunnya yaitu tenun ikat. Di pahami
bahwa seni budaya menenun merupakan kebudayaan yang diwariskan oleh generasi
terdahulu yang mempunyai keunikan, nilai seni dan sejarah yang tinggi. Tahapan
untuk menghasilkan sebuah karya kain tenun ikat dimulai dari penanaman kapas,
pembuatan benang/memintal, ngaos (peminyakan benang), mewarna/mencelup,
mengikat motif, menenun dan menjadikan pakaian adat merupakan rangkaian proses
panjang. Dari beberapa tahapan tersebut dilakukan ritual-ritual tertentu yang
dipercaya sebagai roh untuk membangkitkan semangat dalam bekerja maupun untuk
memperoleh hasil yang memuaskan. Ini merupakan tradisi dan kebudayaan dari
leluhur masyarakat suku Dayak Desa yang dilakuakan puluhan tahun silam.
Puluhan bahkan
ratusan motif pada kain tenun ikat Dayak berasal dari inspirasi, mimpi dan
pengetahuan para leluhur yang mengandung makna begitu mendalam sebagai nasehat,
petuah, pantangan, dan semangat dalam kehidupan keseharian. Motif pada pakaian
suku dayak kebanyakan adalah motif binatang. Namun ada juga diantaranya yang
mengambil tema alam.
![]() |
| Bulang |
Motif pada daun pintu lamin
Bentuk tunggal
ragam hias Naga Asoq, yaitu suatu perpaduan dari bentuk naga dan anjing, pada
bagian kepala berupa gambaran bentuk naga, sementara di bagian badannya berupa
bentuk badan anjing, suku Dayak Bahau lazimnya menyebut anjing dengan sebutan
Asoq. Kenapa suku ini lebih menonjolkan bentuk Naga dan Asoq, hal tersebut
lebih dikarenakan oleh suatau kepercayaan yang mereka anut. Pada ragam hias
Naga Asoq ini, bila kita mengkajinya lebih jauh akan terlihat suatu bentuk Naga
dan Asoq yang seolah-olah sedang berenang,. Perpaduan dalam bentuk tersebut
adalah simbol atau suatu lambang yang dipercaya memiliki kekuatan untuk menolak
kejahatan. Sedangkan arti dari ragam hias tersebut konon dipercaya bahwa Naga
Asoq ini merupakan juru penyelamat dan petunjuk jalan menuju alam setelah
kematian. Dan mengapa aplikasi dari bentuk Naga dan Asoq ini seolah-olah
berenang, hal tersebut juga terjadi karena lebih kepada penghormatan mereka
pada sungai, yang mereka anggap telah memberikan jalan kehidupan bagi suku
Dayak Bahau. Naga Asoq sering terlihat pada hiasan-hiasan di daun pintu Lamin.
Berikut gambar naga Asoq yang diaplikasikan dan dikomposisikan dengan
motif-motif lainnya.
![]() |
| Naga Asoq pada pintu Lamin |
Ragam hias pada suku dayak di Kalimantan Barat merupakan ide-ide dan
pemikiran yang dituangkan dalam bentuk gambar dan hiasan yang berfungsi sebagai
sarana ritual keagamaan.
Ragam hias suku dayak seringkali terlihat oleh dominasi warna hitam dan
merah. Inilah salah satu cirri khas dari
kebudayaan masyarakat dayak. Selain itu, warna-warna tersebut juga mengandung
makna-makna yang semuanya sangat terkait dengan aspek kehidupan dan keagamaan
suku dayak.
Motif-motif hias pada zaman kerajaan-kerajaan besar di Jawa dan sekitarnya.
1.
Motif Ragam Hias Padjajaran
Motif Ragam Hias Padjajaran berbentuk ukel
dari daun pakis dan bentuknya serba bulat. Bentuk ukel seperti tanda koma, Angkupnya berbentuk
bulat juga. Ujung ukel berbentuk patran miring. Motif Ragam Hias Padjajaran ini
dapat kita lihat di Makam Sunan Gunung Jati, pada suatu bangsal dari kayu
berukir. Menurut sejarah, semula adalah bangsal Taruma Negara dari Kerajaan
Prabu Siliwangi. Makam tersebut terletak di dekat sungai Citarum di daerah
Cirebon. Motif Ragam Hias Padjajaran diketemukan oleh Dinas Purbakala.
Pokok dan Dasar Motif
Padjajaran:
Bagian Pokok:
Cembung,semua daun atau bunga besar maupun kecil, dibuat cembung (bulat).
Angkup:
Mempunyai beberapa angkup antara lain angkup besar, angkup tanggung, angkup
kecil.
Culo: Ialah unsure yang penting untuk mengetahui bahwa itulah motif Padjajaran.
Lain dari pada itu tanda culo, berbentuk cembung. Motif Padjajaran besar maupun
tanggung dan kecil ada culonya.
Endong: Ialah sehelai daun yang selalu digendong
oleh daundaun pokok (daun yang besar) atau suatu trubusan yang selalu tumbuh di
belakang daun pokok.
Simbar: Ialah sehelai daun tambahan yang tumbuhnya pada daun besar atau daun
pokok yang berdampingan dengan tangkai angkup.
Benangan: Yaitu gagang yang terletak di bagian muka ulir atau daun melingkar
menuju ulir atau hiasan yang berwujud seperti benang di bagian sehelai daun.
Bentuk ini menambah manis dan cantiknya motif tersebut.
Pecahan: Ialah garis penghias daun; bentuk pecahan ini diselaraskan dengan
motif tersebut.
2.
Motif Ragam Hias Majapahit
Ragam Hias Majapahit berbentuk bulatan dan
krawingan (cekung) dan terdiri dari ujung ukel dan daun-daun waru maupun pakis.
Dalam raga mini patran (daun) diwujudkan krawing (cekung). Bentuk Ragam Hias
Majapahit untuk ragam pokok berbentuk seperti tanda Tanya.
Ragam-ragam ini terdapat pada bekas-bekas potongan batu yang hanya sedikit, dan pada potongan kayu yang sudah rusak. Ragam Majapahit diketemukan oleh Ir. H. Maclaine Pont, seorang pejabat pada Museum Trowulan dan juga dapat dilihat pada tiang Pendopo Masjid Demak. Menurut sejarah tiang tersebut merupakan benda peninggalan kerajaan Majapahit yang dibawa oleh R. patah.
Ragam-ragam ini terdapat pada bekas-bekas potongan batu yang hanya sedikit, dan pada potongan kayu yang sudah rusak. Ragam Majapahit diketemukan oleh Ir. H. Maclaine Pont, seorang pejabat pada Museum Trowulan dan juga dapat dilihat pada tiang Pendopo Masjid Demak. Menurut sejarah tiang tersebut merupakan benda peninggalan kerajaan Majapahit yang dibawa oleh R. patah.
Pokok dan dasar Motif Hias
Majapahit
Bagian Pokok:
Campuran cekung dan cembung, memang daun ini merupakan campuran yang sesuai untuk menambah baiknya motif tersebut.
Angkup: Ragam ini mempunyai dua angkup, yang berbentuk cembung dan cekung
memakai ulir menelungkup pada sehelai daun pokok.
Jambul: Ragam ini mempunyai jambul susun dan jambul satu. Ini suatu tanda untuk
daun-daun pokok atau daun lainnya. Jambul yang satu untuk daun yang tanggung.
Adapun daun kecil tidak memerlukan jambul. Jambul ini diletakkan di muka bagian
atas ulir pada penghabisan ulir angkup.
Trubusan: (daun semi) ialah sehelai daun yang terletak di atas angkup atau daun
besar berebentuk bulat atau cekung (krawing), baik daun tanggung maupun daun
kecil.
Benangan: Sama dengan motif Padjajaran, hanya bedanya jika motif Majapahit
mempunyai benangan rangkap. Benangan rangkap ini dipakai pada daun yang besar
dan benangan satu pada daun yang tanggung.
Simbar: Ialah sehelai daun tambahan yang tumbuh pada daun besar atau pokok daun
pada bagian bawah, berdampingan dengan tangkai angkup.
Pecahan: Ialah garis penghias daun; bentuk pecahan ini diselaraskan dengan motif tersebut.
3. Motif Ragam Hias Bali
Motif Ragam Hias Bali hampir sama dengan
Ragam Hias Padjajaran. Bedanya terletak pada ujung ukel dihiasi dengan sehelai
patran. Jadi ukel besar kecil, bulat cekung, pecahan, ada pula daun yang
runcing. Ragam Hias bali oleh orang Bali dinamakan Patre Punggel. Ragam ini
dapat dilihat di pura sebagai hiasan pintu masuk. Juga di kota-kota besar yang
sudah banyak didapatkan patung-patung Bali Klasik.
Pokok dan Dasar Motif Hias Bali
Bagian Pokok: Campuran cekung dan cembung
serta campuran daun ini. Daun yang besar atau tanggung, sehingga bentuk daun
dapat dimengerti jika daun inilah motif Bali.
Pokok Daun: Sehelai daun yang tumbuh di tengah-tengah daun yang lain dan
tertutup oleh angkup. Batas dan garis pokok berimpitan dengan ulir muka
(benangan) dan masuk pada angkupnya.
Angkup: Sehelai daun yang menutup daun pokok dari pangkal hingga sampai pada
ujungnya dan pada ujung daun berulir.
Benangan: Berbentuk cekung melingkar di bagian muka ulir dan tidak berimpitan
dengan garis-garis yang lain dan ujungnya berulir.
Sunggar: Sehelai daun yang tumbuh membalik di muka berbentuk krawingan, yang
pokoknya tumbuh dari ulir bagian benang.
Endong: Sehelai daun yang selalu tumbuh di belakang (punggung) daun pokok, yang
berbentuk cempalukan berulir atau daun punggel.
Trubusan: (daun semi) sehelai daun tambahan yang tumbuh di bagian ujung atau
atas daun pokok, menambah indahnya daun itu.
Simbar: Ialah sehelai daun tambahan yang tumbuh pada daun besar atau daun pokok
di bagian bawah berdampingan tangkai angkup.
Pecahan: Suatu cawenan yang memisahkan daun pokok, terletk ditengah-tengah daun
itu, menambah baiknya dari suatu motif Bali.
4.
Motif Ragam Hias Mataram
Motif Ragam Hias Mataram ini jika ditinjau dari gambar ukir, berasal dari
pakaian wayang purwa. Bentuknya mirip
bentuk cawenan-cawenan pakaian wayang. Dapat disimpulkan, ukiran motif Mataram
mengambil motif ukiran wayang purwa Kerajaan Demak. Sebab, menurut sejarah,
pada waktu kerajaan Demak mengalami masa surut, wayang dibawa pula ke Kerajaan
Mataram.
Dalam pelaksanaannya, motif Mataram berbentuk krawingan.
Dalam pelaksanaannya, motif Mataram berbentuk krawingan.
Pokok dan Dasar Motif Hias Mataram:
Pokok: Berbentuk
krawingan atau cekung, bagian muka dan atas memakai ulir atau polos dan ada pula
daun yang menelungkup. Daun-daun motif Mataram ini sifatnya menyerupai daun
alam (bentuk digubah) dan cara hidupnya bergerombolan, sehingga menggambarkan
kesatuan atau menuju kesatu titik (memusat).
Benangan: Yang mempunyai bentuk benangan timbul dan cawen melingkar menuju ulir
muka.
Trubusan: Yang mempunyai bentuk sehelai daun kagok, bengkok tumbuh di bagian
muka benangan dan berhenti di bawah ulir.
Pecahan: Ialah suatu pecahan yang bentuknya menyobek sehelai daun memakai irama
berbelok-belok, sehingga menambah baiknya masing-masing daun.
5.
Motif Ragam Hias Jepara
Ragam Hias Jepara
dikembangkan oleh penduduk Jepara, untuk perhiasan rumah tangga di daerah itu sendiri.
Juga diperdagangkan ke Luar Negeri. Ragam Hias tersebut dari ukiran kayu;
misalnya alat- alat rumah tangga, berupa: peti untuk penyimpan barangbarang
perhiasan, kursi tamu, almari, buffet, toilet, dan lainlainnya. Untuk keperluan
rumah tangga misalnya; gebyok yakni dinding antara serambi rumah dengan ruang
peringgitan (ruang muka) yang sering terdapat di sekitar daerah Jepara dan
kudus.
Peninggalan pertama yang masih dapat kita lihat yaitu hiasan ornamen yang ada
di Makam Mantingan Jepara.
Pokok dan Dasar Motif Jepara
Pokok: Dari motif
ini garis besarnya berbentuk prisma segi tiga yang melingkar-lingkar dan dari
penghabisan lingkaran berpecah- pecah menjadi beberapa helai daun, menuju
kelingkaran gagang atau pokok dan bercawenan seirama dengan ragam tersebut.
Buah: Ialah di bagian sudut pertemuan lingkaran, berbentuk bulatan kecil- kecil bersusun seperti buah wuni.
Pecahan: Ialah cawenan yang berbentuk sinar dari sehelai daun
Lemahan: Ialah dasar, dalam prakteknya tidak begitu dalam ada juga yang di krawang atau tembus.
Buah: Ialah di bagian sudut pertemuan lingkaran, berbentuk bulatan kecil- kecil bersusun seperti buah wuni.
Pecahan: Ialah cawenan yang berbentuk sinar dari sehelai daun
Lemahan: Ialah dasar, dalam prakteknya tidak begitu dalam ada juga yang di krawang atau tembus.
6.
Motif Ragam Hias Madura
Motif Ragam Hias
Madura mempunyai corak tersendiri, bentuk daunnya agak kaku, biasanya untuk
perhiasan kamar. Ragam Hias ini diwujudkan berlapis (bersusun), daun yang ada
di sebelah muka terpisah dengan daun di belakang, tetapi merupakan satu
rangkaian.
Motif Madura diciptakan oleh para ahli seni di daerah itu sendiri tidak mencontoh motif dari daerah lain. Motif tersebut tidak diperdagangkan seperti ukiran dari daerah Jepara yang merupakan sumber penghidupan rakyat setempat. Akan tetapi juga kita dapat melihat motif ukiran Madura itu di gedung Museum Pusat (museum Gajah) Jakarta. Sebagai contoh diberikan perhiasan melengkung di atas sebuah pintu yang pada waktu itu dipersembahkan penduduk kepada Gubernur Jenderal De Greaff dan sesudah beliau kembali ke Negeri Belanda, barang tersebut dipasang pada salah sebuah pintu di museum.
Motif Madura diciptakan oleh para ahli seni di daerah itu sendiri tidak mencontoh motif dari daerah lain. Motif tersebut tidak diperdagangkan seperti ukiran dari daerah Jepara yang merupakan sumber penghidupan rakyat setempat. Akan tetapi juga kita dapat melihat motif ukiran Madura itu di gedung Museum Pusat (museum Gajah) Jakarta. Sebagai contoh diberikan perhiasan melengkung di atas sebuah pintu yang pada waktu itu dipersembahkan penduduk kepada Gubernur Jenderal De Greaff dan sesudah beliau kembali ke Negeri Belanda, barang tersebut dipasang pada salah sebuah pintu di museum.
Pokok dan Dasar Ragam Motif Hias Madura
Pokok: Raga mini
mengubah patran yang diselingi dengan isian (isen-I seni) bunga, buah, daunnya melengkung membentuk tanda Tanya dan
bentuk daunnya cekung (krawing).
Pecahan: Tiga baris panjang pendek dari benangan menuju ujung daun motif.
Benangan: Timbul dari pangkal daun menuju ke ulir daun tersebut.
Pecahan: Tiga baris panjang pendek dari benangan menuju ujung daun motif.
Benangan: Timbul dari pangkal daun menuju ke ulir daun tersebut.
7.
Motif Ragam Hias Cirebon
Di kota Cirebon dan
sekitarnya terdapat seni ukir kayu yang mempunyai gaya tersendiri. Pada
dasarnya motif ragam hias tersebut dapat dibedakan menjadi tiga bagian, yaitu
ragam hias awan, bukit batu karang dan motif tumbuh- tumbuhan. Masing-masing
mempunyai ciri khas yang menunjukkan perbedaan antara yang satu dengan lainnya.
Ragam Hias awan dapat diketahui, dengan adanya garis sudut-menyudut yang terpajang dari pilin berupa belah ketupat yang letaknya mendatar. Pada rangkaian belah ketupat tidak terdapat rangkaian tanaman, dan dapat juga diketahui dari cara meletakkannya.
Ragam Hias batu karang dapat diketahui dengan adanya batu karang yang menjalar pada pilin- pilin seperti belah ketupat yang berantai, bagian pinggir bergelombang dan sudutnya dibulatkan. Garis sudut menyudut yang terpajang dari belah ketupat berdiri tegak.
Adapun Ragam Hias Cirebon yang bentuknya merupakan gubahan bentuk tumbuh-tumbuhan mempunyai bentuk hampir sama dengan ragam hias Padjajaran. Begitu pula bentuk timbul cekungnya menunjukkan perbedaan yang jelas sekali. Gambar orang dan binatang menurut ragam hias Cirebon sering dilukiskan dalam bentuk ragam hias tanaman. Hal ini dilakukan berhubung dengan adanya larangan dalam agama Islam untuk melukiskan manusia dan binatang.
Selain ragam Cirebon yang diwujudkan dalam bentuk sulur-suluran kembang bakung, banyak juga ragam hias lain dalam bentuk Pohon Hayat yang mempunyai arti simbolik, bahwa: Pembagian dunia itu serba dua yang menyatakan dunia atas (burung enggang), dunia bawah (ulur), serta keesaan Tuhan digambarkan dengan pohon Hayat.
Ragam Hias awan dapat diketahui, dengan adanya garis sudut-menyudut yang terpajang dari pilin berupa belah ketupat yang letaknya mendatar. Pada rangkaian belah ketupat tidak terdapat rangkaian tanaman, dan dapat juga diketahui dari cara meletakkannya.
Ragam Hias batu karang dapat diketahui dengan adanya batu karang yang menjalar pada pilin- pilin seperti belah ketupat yang berantai, bagian pinggir bergelombang dan sudutnya dibulatkan. Garis sudut menyudut yang terpajang dari belah ketupat berdiri tegak.
Adapun Ragam Hias Cirebon yang bentuknya merupakan gubahan bentuk tumbuh-tumbuhan mempunyai bentuk hampir sama dengan ragam hias Padjajaran. Begitu pula bentuk timbul cekungnya menunjukkan perbedaan yang jelas sekali. Gambar orang dan binatang menurut ragam hias Cirebon sering dilukiskan dalam bentuk ragam hias tanaman. Hal ini dilakukan berhubung dengan adanya larangan dalam agama Islam untuk melukiskan manusia dan binatang.
Selain ragam Cirebon yang diwujudkan dalam bentuk sulur-suluran kembang bakung, banyak juga ragam hias lain dalam bentuk Pohon Hayat yang mempunyai arti simbolik, bahwa: Pembagian dunia itu serba dua yang menyatakan dunia atas (burung enggang), dunia bawah (ulur), serta keesaan Tuhan digambarkan dengan pohon Hayat.
Pokok dan Dasar Motif Cirebon
Pokok: Raga mini
mirip dengan ragam Pejajaran yang berbentuk cembung bercampur cekung(bulat dan
krawing), merupakan komposisi besar kecil yang berbuah dan berbunga.
Angkup: Menelungkup pada bagian daun pokok melingkari ragam pokok.
Angkup: Menelungkup pada bagian daun pokok melingkari ragam pokok.
8. Motif
Ragam Hias Pekalongan
Motif Pekalongan
termasuk seni ukir yang tidak kalah dengan motif yang lain dan mempunai corak
tersendiri, juga mempunyai bunga dan buah seperti bakung. Ukiran ini kurang
dikenal, sebab tidak dikembangkan atau tidak diperdagangkan penduduk
setempat,hanya dipergunakan untuk perhiasan rumah tangga. Karena Pekalongan
terkenal dengan batiknya, maka batik inilah yang dikembangkan oleh penduduk di
kota tersebut.
Pokok dan dasar Motif Hias Pekalongan
Pokok :
Dasar motif pekalongan mirip PaDjajaran yang berbentuk cembung dan dan cekung.
Angkup : tumbuh melingkari ragam pokok dengan angkup yang bersusun.
Benangan :
berbentuk timbul menghubungkan ulir yang satu dengan yang lain, sama dengan
ragam mataram. Pecahan, hanya terdapat pada lingkaran besar dan daun-daun.
9.
Motif Ragam Hias Surakarta
Motif Ragam hias
Surakarta mengambil gubahan patrari dan ukel pakis yang sedang menjalar dengan
bebas, berbentuk cembung dan cekung, yang dilengkapi dengan buah dan bunga.
Hasil seni merupakan gaya pembawaan dan watak penciptaan pengaruh alam
sekitarnya.
Pada umumnya penduduk Surakarta gemar akan gerak irama yang bebas namun tetap memenuhi syarat komposisi Seolah-olah ada keseragaman hidup masyarakat Surakarta dengan aliran Bengawan Solo. Ragam hias ini masih banyak terdapat di sekitar keraton Solo, di Museum Radya Pustaka, dan di tebeng Langse Makam Pujangga Ronggo Warsito di desa Palar Klaten, diambil juga gubahan daun bakung dan kangkung.
Pada umumnya penduduk Surakarta gemar akan gerak irama yang bebas namun tetap memenuhi syarat komposisi Seolah-olah ada keseragaman hidup masyarakat Surakarta dengan aliran Bengawan Solo. Ragam hias ini masih banyak terdapat di sekitar keraton Solo, di Museum Radya Pustaka, dan di tebeng Langse Makam Pujangga Ronggo Warsito di desa Palar Klaten, diambil juga gubahan daun bakung dan kangkung.
Pokok dan dasar motif Surakarta:
Pokok :
dasar motif Surakarta mirip motif campuran antara ragam hias Jepara dan
Pekalongan yang berbentuk cembung dan cekung serta runcing dan bulat.
Angkup : digubah dari daun pakis yang berbentuk sesuai dengan angkup ragam hias Bali.
Benangan dan pecahan : membentuk garis yang pada ujung melingkar.
Angkup : digubah dari daun pakis yang berbentuk sesuai dengan angkup ragam hias Bali.
Benangan dan pecahan : membentuk garis yang pada ujung melingkar.
10.
Motif Ragam Hias Yogyakarta
Motif Ragam hias
Yogyakarta mengambil gubahan sulur-sulur yang berbentuk pilin tegar. Sulur
bunga sebetulnya akar gantung, melilit menyerupai tali yang bergelombang. Pada
jarak jarak yang tertentu ada buku- buku dari sinilah selalu tumbuh keluar
tangkai daun, yang berbentuk seperti pilin.
Pilin-pilin ini mengikal ke kanan dan kekiri berganti-ganti. Pada ujung tiap-tiap tangkai daun, ada buah dan bunganya. Daundaun yang menempel pada tangkainya, mengikal berlawanan arah. Penjelasan ini diberikan oleh Dr. Brandes.
Ragam hias tersebut banyak digunakan pada hiasan-hiasan alumunium, perak, emas dari barang-barang kerajinan yang dihasilkan oleh penduduk Yogyakarta misalnya : alat-alat sendok, asbak, cerana, gong, bejana kerangka atau sarung keris dan lain-lain.
Pilin-pilin ini mengikal ke kanan dan kekiri berganti-ganti. Pada ujung tiap-tiap tangkai daun, ada buah dan bunganya. Daundaun yang menempel pada tangkainya, mengikal berlawanan arah. Penjelasan ini diberikan oleh Dr. Brandes.
Ragam hias tersebut banyak digunakan pada hiasan-hiasan alumunium, perak, emas dari barang-barang kerajinan yang dihasilkan oleh penduduk Yogyakarta misalnya : alat-alat sendok, asbak, cerana, gong, bejana kerangka atau sarung keris dan lain-lain.
Pokok dan Dasar Motif Yogyakarta
Pokok :
diambil dari gubahan sulur yang berbentuk pilin yang tegar, bertangkai bulat
Daun : berbentuk mengikal berlawanan, krawing, bulat yang mempunyai tepi membalik ke atas sebagian sehingga tampak timbul.
Pecahan : terdapat pada tangkai dan daun
Angkup : seringkali terdapat pada tangkai sulur yang searah dengan tegarnya tangkai, yang merupakan daun pula
Daun : berbentuk mengikal berlawanan, krawing, bulat yang mempunyai tepi membalik ke atas sebagian sehingga tampak timbul.
Pecahan : terdapat pada tangkai dan daun
Angkup : seringkali terdapat pada tangkai sulur yang searah dengan tegarnya tangkai, yang merupakan daun pula
Seni ukir Batak (Ornamen Kepala Kuda)
Secara tradisional, rumah Batak kaya
dengan dekorasi design geometris dan gambar-gambar natural dengan warna-warna
merah, putih dan hitam. Dekorasi utama sebuah rumah umumnya berukuran besar
dengan ukiran kepala binatang digabungkan dengan motif-motif yang kompleks dan
indah.
Ornamen arsitektur bagian samping rumah biasanya didominasi oleh kepala kuda. Ukiran ini bukan hanya untuk hiasan tetapi juga berfungsi sebagai pengawal gaib untuk memberikan perlindungan bagi penghuni rumah. Di daerah Batak Toba, kuda sering disembelih untuk penghormatan leluhur dan dipercaya memiliki kemampuan untuk menghantarkan seseorang berjumpa dengan leluhurnya. Kuda juga merupakan simbol status karena hanya orang-orang terhormat yang mampu memilikinya.
Ornamen arsitektur bagian samping rumah biasanya didominasi oleh kepala kuda. Ukiran ini bukan hanya untuk hiasan tetapi juga berfungsi sebagai pengawal gaib untuk memberikan perlindungan bagi penghuni rumah. Di daerah Batak Toba, kuda sering disembelih untuk penghormatan leluhur dan dipercaya memiliki kemampuan untuk menghantarkan seseorang berjumpa dengan leluhurnya. Kuda juga merupakan simbol status karena hanya orang-orang terhormat yang mampu memilikinya.
BATIK MADURA
Seni
batik Madura diperkirakan masuk ke wilayah madura sejak tahun 1293, dan
kemudian terus berlanjut hingga abad ke-17. Saat itu kerajaan Sumenep dipimpin
oleh Ario Prabuwinoko. Pada masa itu, kain batik madura mulai dikenal oleh
masyarakat madura secara luas dan sejak saat itu juga, batik Madura mulai
dikenalkan sebagai warisan leluhur yang berbeda dengan batik milik suku
Jawa yang sangat beragam.
Pada
masa itu terjadi peperangan di Pamekasan Madura antara Raden Azhar (Kiai
Penghulu Bagandan) melawan Ke’ Lesap. Raden Azhar adalah ulama penasihat
spiritual Adipati Pamekasan yang bernama Raden Ismail. Sedangkan Ke’ Lesap
merupakan putra asli Madura yang merupakan keturunan Cakraningrat I dengan
istri selir. Pada peperangan itu, Raden Azhar memakai pakaian batik madura
dengan motif leres, motif leres adalah yakni kain batik madura dengan motif
garis melintang yang simetris. Ketika memakai kain batik madura motif leres
tersebut, Raden Azhar memiliki kharisma, tampak gagah dan berwibawa. Sejak
itulah, batik madura menjadi perbincangan di masyarakat Madura, terutama pembesar-pembesar
di Pamekasan. Batik adalah kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah
menjadi bagian dari budaya Indonesia (khususnya Jawa) sejak lama.
Perempuan-perempuan Jawa di masa lampau menjadikan keterampilan mereka dalam
membatik sebagai mata pencaharian, sehingga di masa lalu pekerjaan membatik
adalah pekerjaan eksklusif perempuan sampai ditemukannya “Batik Cap” yang
memungkinkan masuknya laki-laki ke dalam bidang ini. Ada beberapa pengecualian
bagi fenomena ini, yaitu batik pesisir yang memiliki garis maskulin seperti
yang bisa dilihat pada corak “Mega Mendung”, dimana di beberapa daerah pesisir
pekerjaan membatik adalah lazim bagi kaum lelaki.
BATIK PEKALONGAN
Batik pekalongan ini
sebenarnya telah dimulai sejak paska konflik dan peperangan yang ada
dilingkungan kerajaan mataram. Saat itu, peperangan yang melawan kolonial
Belanda dan perpecahan di lingkungan keraton memang sangat sering terjadi.
Kondisi inilah yang akhirnya memaksa sebagian keluarga keraton untuk mengungsi
ke daerah lain dan salah satunya adalah kota Pekalongan. Keluarga keraton yang
sudah mempunyai ketrampkilan membatik inilah yang akhirnya mengembangkan
ketrampilannya membatik di Pekalongan tempat mereka mengungsi tersebut. Di kota
Pekalongan tersebutlah batik tersebut akhirnya tumbuh pesat dan akhirnya terus
dikembangkan oleh masyarakat sekitar hingga akhrinya menjadi sumber mata
pencaharian. Untuk motif batik
pekalongan ini sangat dipengaruhi oleh keadaan daerah yang ada di
sekitarnya. Hingga saat ini jenis batik
pekalongan yang paling dikenal berdasarkan prosesnya adalah batik
tulis dan juga batik cap. Meskipkun demikian motif batik pekalongan tetap memiliki ciri khas yang tentunya
menjadi daya tarik tersendiri untuk penggemar batik khususnya batik dari
Pekalongan ini.
Seni
Ukir Kayu Suku Asmat
Bagi
suku Asmat, seni ukir kayu adalah bagian dari kehidupan sehari-hari yang telah
turun temurun menjadi suatu kebudayaan yang bukan saja dikenal di Papua dan
Indonesia, melainkan sudah ke seluruh dunia. Bagi setiap turis asing yang
berkunjung ke Papua, rasanya kurang lengkap apabila tidak mengenal atau membeli
cenderamata karya ukir suku Asmat dalam berbagai ukuran. Ciri khas dari ukiran
suku asmat adalah polanya yang unik dan bersifat naturalis, dimana dari
pola-pola tersebut akan terlihat kerumitan cara membuatnya sehingga membuat
karya ukir suku Asmat bernilai tinggi dan sangat banyak diminati para turis
asing yang menggemari karya seni.
Dari
segi model, ukiran suku Asmat memiliki pola dan ragam yang sangat banyak, mulai
dari patung model manusia, binatang, perahu, panel, perisai, tifa, telur
kaswari sampai ukiran tiang. Suku Asmat biasanya mengadopsi pengalaman dan
lingkungan hidup sehari-hari sebagai pola ukiran mereka, seperti pohon, perahu,
binatang dan orang berperahu, orang berburu dan lain-lain. Mengukir adalah
sebuah tradisi kehidupan dan ritual yang terkait erat dengan spiritualitas
hidup dan penghormatan terhadap nenek moyang. Ketika Suku Asmat mengukir,
mereka tidak sekedar membuat pola dalam kayu tetapi mengalirkan sebuah
spiritualitas hidup
Ragam hias Mataram ini banyak mengekspresikan bentuk daun
yang menyerupai daun waru, atau kluweh (Jawa) atau juga gubahan dari buah
koro yang disebut korohisto. Susunan dari ragam hias ini biasanya bergerombol
dari satu pusat tumbuh ke segala arah. Ada juga yang disusun sambung menyambung
antara daun yang satu dengan daun yang lain hingga mewujudkan untaian yang
panjang. Unsur-unsur pada ragam hias ini terdiri dari :
1) Daun pokok : dalam motif ini dilakasanakan dalam bentuk krawing (cekung) baik dari pangkal sampai ujung daun.
2) Ulir :
pada umumnya bentuk ulir pada motif ini banyak mempunyai proporsi yang besar
bila dibandingkan dengan motif lain.
3) Pecahan :
pada motif ini banyak diterapkan pada tepi-tepi daun sampai pada angkupnya dan
tiap satu daun paling banyak tiga pecahan dan pecahan tersebut biasanya lebar
dan dalam.
4) Benangan :pada motif ini dilaksanakan timbul berbentuk melilit
melingkari ulir induk.
5) Angkup :
pada motif ini angkup dalam arti riel (nyata) tidak ada yang kelihatan seperti
angkup pada daun pokok, hanya merupakan lipatan daun itu sendiri.
6) Trubusan : pada ragam hias ini daun trubusan banyak menyerupai daun
warudengan benangan timbul.
Seni Ukir Motif
Pajajaran
Ragam hias ini
banyak terdapat di Jawa Barat karena merupakan hasil dari budaya Kerajaan
Pajajaran. Peninggalan yang masih sampai sekarang banyak terdapat di Makam
Sunan Gunung Jati. Dalam ragam hias ini kelihatan bentuk-bentuk yang bulat
karena semua bentuk ukiran di ekspresikan bulatan atau cembung. Ragam hias
Pajajaran terdiri dari:
1) Daun pokok : daun pokok atau relung besar dibuat
cembung atau bulatan. Hal ini perkasanya sifat ragam hias.
2) Angkup : pada
ragam hias ini dibuat cembung atau bulatan. Pada tangkai angkup biasanya tumbuh
trubusan pada bagian atas.
3) Cula : Pada ragam hias Pajajaran ini ada
bentuk daun kecil yang tumbuh di muka daun pokok atau relung besar. Hal ini
merupakan corak khusus bahwa di Jawa Barat dengan adanya binatang yang bercula
yaitu binatang badak.
4) Endhong : daun
yang tumbuh dibelakang daun pokok, bentuknya bersusun-susun dari bawah sampai
atas dau pokok. Juga bersifat pengisi bidang-bidang kosong.
5) Simbar : pada
daun pokok depan, tepatnya di belakang benangan tumbuhlah daun kecil-kecil yang
berjajar ke atas yang lazimnya disebut simbar. Hal ini lebih menambah wibawa
dari ragam hias Pajajaran.
6) Benangan :
berbentuk miring, dari bawah sampai ke atas berhenti pada ulir pokok.
7) Pecahan :
sebagaimana lazimnya motif ukir, pecahan merupakan pemanis atau menambah
luwesnya bentuk daun yang sudah dipecahi.
8) Trubusan : Dau-daun kecil yang tumbuh di sekitar daun
pokok, juga bersifat pelengkap atau pengisi dari bidang-bidang yang kosong.
Motif Majapahit
merupakan salah
satu motif ukiran tradisional yang telah berkembang di Jawa khususnya atau
Nusantara pada umumnya. Secara garis besar motif Majapahit mempunyai ciri-ciri
yang dapat dibagi menjadi dua yaitu ciri-ciri umum dan ciri-ciri khusus.
Ciri-ciri umum:
Semua bentuk ukiran daun, bunga dan buah
berbentuk melengkung cembung dan cekung. Dengan kata lain motif Majapahit mempunyai
ciri-ciri secara umum mempunyai bentuk campuran antara yang cembung dan cekung.
Ciri-ciri khusus:
Angkup, motif
Majapahit mempunyai bentuk yang disebut dengan angkup. Angkup pada motif ini
berbentuk cekung dan berikal. Bentuk ini terdapat pada bagian atas sedangkan
pada ujung angkup terdapat ikal sebagai akhir dari angkup tersebut. Jambul
Susun, merupakan salah satu ciri khas yang ada pada motif
Majapahit. Jambul Susun terletak pada muka daun pokok dengan pengulangan bentuk
yang berkali-kali. Sesuai dengan namanya Jambul Susun ini bentuknya tersusun
secara berulang-ulang di depan agak ke atas pada daun pokoknya. Daun Trubus, pada motif Majapahit ini kebanyakan
tumbuh di atas pada daun pokok. Trubus yang terdapat di atas ini jumlahnya juga
mengalami pengulangan secara berkali-kali dengan jumlah yang tergolong banyak.
Simbar,
berbentuk seperti Simbar yang terdapat pada motif ukiran lainnya. Simbar juga
berfungsi sebagai penambah keindahan saja. Bentuk ini memang bukanlah bentuk
inti pada motif Majapahit. Simbar hanyalah sebagai pelengkap atau untuk sarana
penunjang estetika. Biasanya terletak pada bagian pangkal depan dari daun
pokok. Benangan, motif ini kadang-kadang mempunyai benangan
rangkap di samping juga terdapat benangan garis. Benangan ini terdapat pada
daun pokok bagian depan dimulai dari pangkal mengikuti alur lengkungan daun
pokoknya menuju dan berakhir pada ulir/ukel. Pecahan,
seperti halnya pada motif yang lain, pecahan pada motif Majapahit mempunyai dua
jenis pecahan yaitu pecahan garis yang menjalar pada daun pokok dan pecahan
cawen yang terdapat pada ukiran daun patran. Sehingga bentuk Pecahan ini dapat
menambah keindahan dan kecantikan pada ukiran.






Komentar
Posting Komentar